Kamis, Juli 21, 2011

Mantra Panca Sembah

Sembah pertama, sembah tanpa sarana sebagai pembuka
Mantra:
Om atma tatwatma suddhamam swaha

Sembah kedua, sembah kepada Ida Sang Hyang Widhi Wase manifestasinya sebagai Sang Hyang Aditya (matahari)
Mantra:
Om aditya sya param jyoti
Rakta teja namo stute
Sweta pangkaja madyasta
Bhaskara ya namo stute
Om rang ring sah parama cintya yenamah swaha

Sembah ketiga, sembah kepada Ida Sang Hyang Widhi Wase manifestasinya sebagai Ista Dewata (Dewa yang berstana di tempat melakukan pemujaan)
Mantra:
Om nama dewa adhi sthanaya
Sarwa wiapi wai siwa ya
Padmasana eka pratisthaya
Adhanareswaraya namah swaha

(Tambahkan mantra berikut jika muspa pada Hari Raya Saraswati)
Om brahma putri maha dewi
Bramanyam brahma wandhini
Saraswati sayadnyanam
Pradnyana ya saraswati
Om saraswati dipata ya namah swaha

(Tambahkan mantra berikut juka muspa di Pura Kayangan Jagat)
Om brahma wisnu iswara dewam
Jiwat manam tri lokanam
Sarwa jagat prastiyanam
Sawra roga wisnu cirtam

(Tambahkan mantra berikut jika muspa di Pura Dalem/Mrajapati)
Om ang brahma prajapati sresta
Swayem bhu paradham guru
Patmayoni catur watra
Brahma skayem unceyate
Om rang ring syah parama cintya ye namah swaha

Sembah keempat, sembah kepada Ida Sang Hyang Widhi Wase manifestasinya sebagai dewa pemberi anugerah.
Mantra:
Om anugraha mano hara
Dewa data nugrahaka
Archanam sarwa pujanam
Namah sarwa nugrahaka

Om dewa dewi maha sidhi
Yajnanga nirmalatmaka
Laksmi sidhis ca dirgahayu
Nirwigenha sukha werdhis ca

Om sryam bhawantu
Shukham bhawantu
Purnham bhwantu
 
Om ksama sampurna ya namah swaha

Sembah kelima, sembah tanpa sarana sebagai penutup
Mantra:
Om dewa suksma parama cintya ya namah swaha
Om santih, santih, santih, om

Minggu, Juli 10, 2011

Ritual unik desa Sidetapa untuk menangkal kekuatan jahat

        Laki-laki berdiri di depan api di tengah-tengah halaman Pura Agung candi di desa Sidetapa. Melalui ritual Agung Briyang, mereka membersihkan senjata mereka dalam sebuah ritual untuk mengusir roh jahat apapun. Kartarahardja JP / Alit  
     Malam itu dingin dan berkabut di desa tua Sidetapa, 40 kilometer barat laut Singaraja, ibukota Kabupaten Buleleng di Bali Utara. Ratusan warga  berantusias mengambil bagian dalam upacara langka yang disebut Karya Odalan ulang Ngerebeg candi, juga disebut sebagai ritual Agung Briyang, dilaksanakan setiap tiga tahun. Mengenakan kostum tradisional yang terbaik, para wanita desa membawa persembahan besar dan berwarna-warni di kepala mereka. Ayah dan anak-anak membantu membawa perlengkapan upacara lainnya berjalan dalam prosesi yang panjang. Ritual  Briyang Agung , yang merayakan kunjungan para dewa untuk peringatan berdirinya candi utama desa mereka, biasanya dilaksanakan pada Purnamaning Kedasa, Bulan Penuh dalam bulan kesepuluh dari kalender Hindu Bali. "Inti dari ritual tersebut adalah untuk berdoa kepada Sang Pencipta dan menyambut para dewa, sementara pada saat yang sama melawan roh-roh jahat," jelas Nyoman Parna, seorang pemimpin Sidetapa.  
     Sebelum Briyang Agung, semua anggota desa melakukan serangkaian mini-ritual termasuk pemurnian Melasti prosesi ke sungai terdekat Tukad Sidetapa. Prosesi ini melibatkan  100 anggota masyarakat, dengan peserta menari dan beberapa masuk ke trans. Orang Bali percaya penari trans adalah media yang dapat mengirimkan kata tuhan selama setiap proses ritual. Pergi ke trans mungkin juga menjadi bukti kehadiran dewa '. Ritual berikutnya dilakukan adalah Sesayutan dan Wayon untuk menyambut dewa. Sehari setelah prosesi itu, semua anggota laki-laki di desa mengambil bagian dalam berburu rusa atau meboros Kidang. Sidetapa desa dulunya dikelilingi oleh hutan subur, rumah untuk rusa liar dan babi hutan. Sebagai hasil dari pertumbuhan penduduk yang cepat, hutan menjadi daerah pemukiman. "Saat ini, sangat sulit untuk menemukan rusa di hutan," kata Wayan Artha. Rusa dan babi digunakan sebagai persembahan utama. "Percaya atau tidak, kita selalu menemukan rusa di suatu tempat ketika saatnya tiba untuk melakukan ritualn"kata Artha. Puncak peringatan disebut Briyang Agung. Keluarga membawa senjata tajam mereka, keris (belati), pedang, tombak, tombak, dan lain-lain ke dalam Candi Pura Agung. Sejumlah orang menyalakan api di tengah halaman candi. Penduduk desa kemudian membawa senjata mereka di dalam pura, dengan suara musik gamelan. Banyak perempuan juga dilakukan tarian ritual untuk menemani senjata suci. Ritual pembersihan senjata dimaksudkan untuk menangkal roh jahat apapun.  
     Untuk penduduk Sidetapa, ritual ini juga sebagai menghormati leluhur mereka yang dulu kebanyakan sebagai prajurit. Berdasarkan cerita rakyat, desa Sidetapa merupakan rumah bagi prajurit kerajaan dari Kerajaan Buleleng dulu. "Senjata-senjata suci diyakini memiliki kekuatan magis. nenek moyang mereka menggunakan senjata untuk melawan musuh-musuh Kerajaan, termasuk pasukan kolonial Belanda di awal abad 19, "jelas sejarawan I Gusti Putu Teken.  
    Parna menambahkan bahwa pada tahun 1999, desa tidak mengadakan ritual. "Desa kami kemudian 'dikutuk' oleh banyak bencana," tambahnya. Upacara Briyang adalah sarana untuk memperbaharui hubungan mereka dengan para dewa dan untuk memperkuat ikatan komunal dengan satu sama lain selama persiapan ritual rumit.

Sidatapa Rumah Unik


 
Sidetapa adalah sebuah desa tradisional di daerah Seririt. Desa Sidetapa terletak di Banjar sub-distrik, di daerah pegunungan sekitar 600-800 meter di atas langit. Desa ini sekitar 5 kilometer dari jalan utama.

Desa ini, pada kenyataannya, tidak terpencil di semua karena orang sudah menggunakan barang-barang elektronik di rumah mereka. Seluruh rumah tradisional terbuat dari bahan tanah dan semua kegiatan hidup terkonsentrasi di rumah.

Ada tiga rumah yang masih utuh dengan arsitektur tradisional mereka, sementara rumah-rumah lainnya sudah menggunakan bahan selain dari tanah dengan arsitektur modern. Meskipun arsitektur modern mereka, seluruh aktivitas masih terkonsentrasi di rumah. Di dalam rumah yang memiliki lampu tidak, Anda akan melihat bahwa orang-orang Sidetapa melakukan aktivitas mereka di dalam satu ruangan. Dari memasak untuk menjaga stok pangan mereka.

Orang-orang tradisional Sidetapa juga membuat kerajinan dari bambu yang mereka gunakan untuk kehidupan mereka.

Minggu, Desember 12, 2010

Hari Raya Galungan

Sejarah Hari Raya Galungan masih merupakan misteri. Dengan mempelajari pustaka-pustaka, di antaranya Panji Amalat Rasmi (Jaman Jenggala) pada abad ke XI di Jawa Timur, Galungan itu sudah dirayakan. Dalam Pararaton jaman akhir kerajaan Majapahit pada abad ke XVI, perayaan semacam ini juga sudah diadakan.
Menurut arti bahasa, Galungan itu berarti peperangan. Dalam bahasa Sunda terdapat kata Galungan yang berarti berperang.
Parisadha Hindu Dharma menyimpulkan, bahwa upacara Galungan mempunyai arti Pawedalan Jagat atau Oton Gumi. Tidak berarti bahwa Gumi/ Jagad ini lahir pada hari Budha Keliwon Dungulan. Melainkan hari itulah yang ditetapkan agar umat Hindu di Bali menghaturkan maha suksemaning idepnya ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi atas terciptanya dunia serta segala isinya. Pada hari itulah umat angayubagia, bersyukur atas karunia Ida Sanghyang Widhi Wasa yang telah berkenan menciptakan segala-galanya di dunia ini.
Ngaturang maha suksmaning idép, angayubagia adalah suatu pertanda jiwa yang sadar akan Kinasihan, tahu akan hutang budi.
Yang terpenting, dalam pelaksanaan upakara pada hari-hari raya itu adalah sikap batin. Mengenai bebanten tidak kami tuliskan secara lengkap dan terinci. Hanya ditulis yang pokok-pokok saja menurut apa yang umum dilakukan oleh umat. Namun sekali lagi, yang terpenting adalah kesungguhan niat dalam batin.
Dalam rangkaian peringatan Galungan, pustaka-pustaka mengajarkan bahwa sejak Redite Pahing Dungulan kita didatangi oleh Kala-tiganing Galungan. Sang Kala Tiga ialah Sang Bhuta Galungan, Sang Bhuta Dungulan dan Sang Bhuta Amangkurat. Disebutkan dalam pustaka-pustaka itu: mereka adalah simbul angkara (keletehan). Jadi dalam hal ini umat berperang, bukanlah melawan musuh berbentuk fisik, tetapi kala keletehan dan adharma. Berjuang, berperang antara dharma untuk mengalahkan adharma. Menilik nama-nama itu, dapatlah kiranya diartikan sebagai berikut:
  1. Hari pertama = Sang Bhuta Galungan.
    Galungan berarti berperang/ bertempur. Berdasarkan ini, boleh kita artikan bahwa pada hari Redite Pahing Dungulan kita baru kedatangan bhuta (kala) yang menyerang (kita baru sekedar diserang).
  2. Hari kedua = Sang Bhuta Dungulan.
    Ia mengunjungi kita pada hari Soma Pon Dungulan keesokan harinya. Kata Dungulan berarti menundukkan/ mengalahkan.
  3. Hari ketiga = Sang Bhuta Amangkurat
    Hari Anggara Wage Dungulan kita dijelang oleh Sang Bhuta Amangkurat. Amangkurat sama dengan menguasai dunia. Dimaksudkan menguasai dunia besar (Bhuwana Agung), dan dunia kecil ialah badan kita sendiri (Bhuwana Alit).
Pendeknya, mula-mula kita diserang, kemudian ditundukkan, dan akhirnya dikuasai. Ini yang akan terjadi, keletehan benar-benar akan menguasai kita, bila kita pasif saja kepada serangan-serangan itu. Dalam hubungan inilah Sundari-Gama mengajarkan agar pada hari-hari ini umat den prayitna anjekung jnana nirmala, lamakane den kasurupan. Hendaklah umat meneguhkan hati agar jangan sampai terpengaruh oleh bhuta-bhuta (keletehan-keletehan) hati tersebut. Inilah hakikat Abhya-Kala (mabiakala) dan metetebasan yang dilakukan pada hari Penampahan itu.
Menurut Pustaka (lontar) Djayakasunu, pada hari Galungan itu Ida Sanghyang Widhi menurunkan anugrah berupa kekuatan iman, dan kesucian batin untuk memenangkan dharma melawan adharma. Menghilangkan keletehan dari hati kita masing-masing. Memperhatikan makna Hari Raya Galungan itu, maka patutlah pada waktu-waktu itu, umat bergembira dan bersuka ria. Gembira dengan penuh rasa Parama Suksma, rasa terimakasih, atas anugrah Hyang Widhi. Gembira atas anugrah tersebut, gembira pula karena Bhatara-bhatara, jiwa suci leluhur, sejak dari sugi manek turun dan berada di tengah-tengah pratisentana sampai dengan Kuningan.
Penjor terpancang di muka rumah dengan megah dan indahnya. Ia adalah lambang pengayat ke Gunung Agung, penghormatan ke hadirat Ida Sanghyang Widhi. Janganlah penjor itu dibuat hanya sebagai hiasan semata-mata. Lebih-lebih pada hari raya Galungan, karena penjor adalah suatu lambang yang penuh arti. Pada penjor digantungkan hasil-hasil pertanian seperti: padi, jagung, kelapa, jajanan dan lain-lain, juga barang-barang sandang (secarik kain) dan uang. Ini mempunyai arti: Penggugah hati umat, sebagai momentum untuk membangunkan rasa pada manusia, bahwa segala yang pokok bagi hidupnya adalah anugrah Hyang Widhi. Semua yang kita pergunakan adalah karuniaNya, yang dilimpahkannya kepada kita semua karena cinta kasihNya. Marilah kita bersama hangayu bagia, menghaturkan rasa Parama suksma.
Kita bergembira dan bersukacita menerima anugrah-anugrah itu, baik yang berupa material yang diperlukan bagi kehidupan, maupun yang dilimpahkan berupa kekuatan iman dan kesucian batin. Dalam mewujudkan kegembiraan itu janganlah dibiasakan cara-cara yang keluar dan menyimpang dari kegembiraan yang berdasarkan jiwa keagamaan. Mewujudkan kegembiraan dengan judi, mabuk, atau pengumbaran indria dilarang agama. Bergembiralah dalam batas-batas kesusilaan (kesusilaan sosial dan kesusilaan agama) misalnya mengadakan pertunjukkan kesenian, malam sastra, mapepawosan, olahraga dan lain-lainnya. Hendaklah kita berani merombak kesalahan-kesalahan/ kekeliruan-kekeliruan drsta lama yang nyata-nyata tidak sesuai atau bertentangan dengan ajaran susila. Agama disesuaikan dengan desa, kala dan patra. Selanjutnya oleh umat Hindu di Bali dilakukan persernbahyangan bersama-sama ke semua tempat persembahyangan, misalnya: di sanggah/ pemerajan, di pura-pura seperti pura-pura Kahyangan Tiga dan lain-lainnya. Sedangkan oleh para spiritualis, Hari Raya Galungan ini dirayakan dengan dharana, dyana dan yoga semadhi.
Persembahan dihaturkan ke hadapan Ida Sanghyang Widhi dan kepada semua dewa-dewa dan dilakukan di sanggah parhyangan, di atas tempat tidur, di halaman, di lumbung, di dapur, di tugu (tumbal), di bangunan-bangunan rumah dan lain-lain.
Seterusnya di Kahyangan Tiga, di Pengulun Setra (Prajapati), kepada Dewi Laut (Samudera) Dewa Hutan (Wana Giri) di perabot-perabot / alat-alat rumah tangga dan sebagainya.
Widhi-widhananya untuk di Sanggah/ parhyangan ialah: Tumpeng penyajaan, wewakulan, canang raka, sedah woh, penek ajuman, kernbang payas serta wangi-wangian dan pesucian. Untuk di persembahyangan (piasan) dihaturkan tumpeng pengambean, jerimpen, pajegan serta dengan pelengkapnya. Lauk pauknya sesate babi dan daging goreng, daging itik atau ayarn, dibuat rawon dan sebagainya. Sesudah selesai menghaturkan upacara dan upakara tersebut kemudian kita menghaturkan segehan tandingan sebagaimana biasanya, untuk pelaba-pelaba kepada Sang Para Bhuta Galungan, sehingga karena gembiranya mereka lupa dengan kewajiban- kewajibannya mengganggu dan menggoda ketentraman batin manusia.
Demikianlah hendaknya Hari Raya Galungan berlaku dengan aman dan diliputi oleh suasana suci hening, mengsyukuri limpahan kemurahan Ida Sanghyang Widhi untuk keselamatan manusia dan seisi dunia. Pada hari Saniscara Keliwon Wuku Kuningan (hari raya atau Tumpek Kuningan), Ida Sanghyang Widhi para Dewa dan Pitara-pitara turun lagi ke dunia untuk melimpahkan karuniaNya berupa kebutuhan pokok tersebut.
Pada hari itu dibuat nasi kuning, lambang kemakmuran dan dihaturkan sesajen-sesajen sebagai tanda terimakasih dan suksmaning idep kita sebagai manusia (umat) menerima anugrah dari Hyang Widhi berupa bahan-bahan sandang dan pangan yang semuanya itu dilimpahkan oleh beliau kepada umatNya atas dasar cinta-kasihnya. Di dalam tebog atau selanggi yang berisi nasi kuning tersebut dipancangkan sebuah wayang-wayangan (malaekat) yang melimpahkan anugrah kemakmuran kepada kita semua.
Demikian secara singkat keterangan-keterangan dalam merayakan hari Raya Galungan dan Kuningan dalam pelaksanaan dari segi batin.
Kesimpulan:
  • Dalam menyambut dan merayakan hari-hari raya itu, bergembiralah atas anugrah Hyang Widhi dalam batas-batas kesusilaan agama dan keprihatinan bangsa.
  • Terangkan hati, agar menjadi Çura, Dira dan Deraka (berani, kokoh dan kuat), dalam menghadapi hidup di dunia.
  • Hemat dan sederhanalah dalam mempergunakan biaya.
  • Terakhir dan bahkan yang terpenting ialah mohon anugrah Hyang Widhi dengan ketulusan hati.
Om, sampurna ya nama swaha.
Om, sukham bhawantu.


Sumber : http://www.babadbali.com